
ILOMATA – Seorang petani muda di Desa Ilomata, Kecamatan Bulango Ulu, Kabupaten Bone Bolango, Gorontalo, mengubah lahan monokultur jagung turun-temurun menjadi kebun agroforestri yang beragam dan subur dengan mengandalkan pupuk organik buatan sendiri.
Rahman Mooduto (28 tahun) sejak 2023 secara perlahan meninggalkan pola tanam jagung warisan orang tuanya. Ia kini beralih ke sistem agroforestri atau tumpangsari dan terasering. Kini, lahan seluas 0,5 hektar di lereng bukit dengan kemiringan 40 persen dipenuhi beragam tanaman seperti lada, alpukat, pala, pisang, durian, kopi, dan kelapa.
“Saya membuat terasering dan tumpangsari, karena jagung merusak nutrisi tanah dan keuntungannya minim. Lebih banyak capek daripada untung,” ujar Rahman melalui sambungan telepon, Selasa (13/1/2026).
Rahman juga mengembangkan pupuk organik dari limbah rumah tangga dan kotoran ternak, setelah mengikuti pelatihan dari JAPESDA (Jaring Advokasi Pengelolaan Sumber Daya Alam).
“Pupuk dari sisa tanaman, dicampur tanah dan kotoran ternak, kemudian diolah menjadi kompos, yang berfungsi memperbaiki struktur tanah,” jelasnya.

Tak hanya pupuk padat, Rahman juga membuat pupuk cair Jakaba (Jamur Keberuntungan Abadi) dari fermentasi air cucian beras. “Jakaba kaya nutrisi dan mempercepat pertumbuhan tanaman, terutama pada tanaman yang kerdil. Sebelum menggunakan Jakaba, banyak bibit lada saya yang mati. Sekarang yang mati hanya sedikit.”
Untuk mengendalikan hama, Rahman menggunakan pestisida nabati yang bahan bakunya mudah ditemukan di sekitar desa, seperti daun pepaya, lidah buaya, daun sirsak, minyak kelapa, dan serbuk kayu. “Bahan-bahan ini dihancurkan dan difermentasi selama 25 jam. Setelah itu air saringannya siap digunakan. Bahan-bahan ini aman untuk tanaman dan lingkungan, tanpa kandungan kimia.” tutur Rahman.
Mengatasi Warisan Agropolitan Jagung
Pada awal milenium baru, Pemerintah Provinsi Gorontalo meluncurkan kebijakan agropolitan jagung. Kebijakan ini mendorong pertanian jagung monokultur skala besar.

Menurut kajian Universitas Negeri Gorontalo (2013), sebagai provinsi baru, Gorontalo menetapkan tiga program unggulan: pengembangan sumber daya manusia, agropolitan dengan titik masuk (entry point) jagung, dan etalase perikanan.
Kebijakan ini mengubah pola tanam masyarakat dari sistem multi-komoditas menjadi monokultur jagung, yang kemudian menimbulkan berbagai tantangan ekologis dan sosial. Kajian tersebut bahkan menyebut bahwa di tahun-tahun awal provinsi ini terbentuk, Gorontalo bagai mengalami “revolusi hijau yang datang terlambat.”
Meski data BPS menunjukkan luas panen jagung di Gorontalo meningkat 12,09 persen (128,18 ribu hektar) pada 2024, dibandingkan luas panen jagung 2023 yang hanya 114,36 ribu hektar, kondisi lahan berbukit di Desa Ilomata dinilai tidak cocok untuk budidaya jagung. Inilah yang mendorong petani seperti Rahman memilih beralih ke agroforestri.
Peran Ilomata sebagai Penyangga Konservasi
Desa Ilomata berperan sebagai penyangga Taman Nasional Bogani Nani Wartabone (TNBNW). Berdasarkan studi Japesda (2022), desa ini berada di ketinggian 150 sampai 200 Meter di Atas Permukaan Laut (MDPL) , dikelilingi perbukitan yang mencapai lebih dari 1.000 MDPL. Topografi curam ini membuat kawasan rentan terhadap erosi.

Risiko ekologis tersebut semakin diperparah oleh praktik pertanian monokultur jagung yang telah berlangsung selama tiga dekade. Kombinasi kemiringan lahan dan pertanian monokultur menjadi ancaman serius bagi keberlanjutan ekologi.
Menyadari ancaman ini, petani seperti Rahman mengambil tindakan nyata. “Kebun saya di atas bukit dan miring, jadi saya membangun terasering untuk menahan laju air. Saya berhenti menanam jagung untuk mencegah erosi. Sekarang, semakin banyak warga yang membuat teras dan beralih ke tumpangsari,” ujarnya.
Langkah adaptif warga ini sejalan dengan program pertanian cerdas iklim yang dijalankan Japesda. Menurut Direktur Japesda, Nurain Lapolo, program ini merupakan aksi konkret untuk menjaga keberlanjutan ekosistem sekaligus membangun kemandirian petani.
“Ini adalah komitmen Japesda untuk menjaga keberlangsungan ekologi dan mengajak petani meninggalkan monokultur jagung. Agroforestri menawarkan keseimbangan: menghasilkan komoditas, menyediakan pangan bergizi, dan sekaligus melindungi lingkungan,” jelas Nurain. “Kehadiran kami adalah untuk berbagi pengetahuan.”
Nurain menekankan bahwa pelestarian ekosistem memerlukan inovasi metode pertanian. Agroforestri dirancang untuk memenuhi berbagai kebutuhan secara berkelanjutan, mulai dari produksi kayu dan hasil hutan lainnya, penyediaan pangan beragam, hingga perlindungan jasa ekosistem untuk generasi kini dan mendatang.
“Intinya, kami ingin petani tidak hanya menjaga alam, tetapi juga mencapai kemandirian pangan keluarga untuk jangka panjang,” tutupnya.

