Oleh: Ummul Uffia/fasilitator Japesda di Desa Torosiaje

Matahari bersinar terik, berpadu dengan api yang menjilat-jilat badan perahu. Asap mengepul. Dari kejauhan, Halima terlihat mengibas-ngibas asap yang mengenai wajahnya, sementara tangannya yang lain dengan mahir membolak-balikkan gulungan daun kelapa terbakar di sekujur perahu.
“Panas sekali,” ujarnya.
Halima adalah nelayan perempuan dari Desa Torosiaje, Popayato, Pohuwato, Gorontalo. Sebagai keturunan asli Suku Bajo, sejak kecil Halima sudah terbiasa mengikuti orangtuanya turun ke laut. Kebiasaan-kebiasaan yang dilakukan orangtuanya ketika melaut, sampai kini Halima praktikkan dalam pekerjaan sehari-harinya sebagai nelayan. Kebiasaan ini salah satunya adalah merawat perahu dengan cara membakarnya.
Membakar bagian luar perahu, atau dalam Bahasa Bajo disebut Ngalu’u Lepa, adalah cara tradisional masyarakat Bajo dalam merawat perahu. Perahu akan didaratkan seharian penuh untuk dikeringkan. Sementara itu, pemiliknya mengumpulkan daun kelapa sebagai bahan bakar utama.
Keesokan harinya, perahu yang sudah kering diangkat ke atas kayu penyangga agar terdapat ruang kosong di bawahnya. Proses mengangkat perahu tidak dilakukan sendirian, melainkan secara gotong royong, sebagaimana kebiasaan warga membakar perahu bersama-sama setiap Jumat—hari libur nelayan di Torosiaje.
Daun kelapa yang telah dikumpulkan lalu diikat dan dibakar. Satu pelepah daun kelapa memungkinkan satu ujungnya dibakar sementara ujung lainnya dipegang. Ujung yang terbakar itu kemudian didekatkan ke seluruh permukaan badan perahu. Tidak ada ukuran baku untuk tingkat pembakarannya. Hanya ada satu patokan: “Dibakar sampai semua bagian menghitam,” kata Halima.
Bagi masyarakat Suku Bajo di Desa Torosiaje, membakar perahu membuat perahu menjadi lebih ringan. Proses ini menghilangkan biofouling—organisme laut yang menempel pada kayu—sehingga mengurangi bobot perahu. Tak hanya itu, Halima dan nelayan lain di Desa Torosiaje percaya bahwa ngalu’u lepa membuat kayu perahu lebih tahan lama, tidak mudah bocor, dan tahan terhadap cuaca laut.

Jumat 21/11/25. Foto: Ummul Uffia.
Ngalu’u lepa biasanya dilakukan secara rutin, bisa dua hingga tiga kali sebulan atau dua minggu sekali, tergantung kebutuhan pemilik perahu. Namun, satu hal yang pasti: pembakaran dilakukan ketika perahu sudah terasa berat saat digunakan.
Teknik Ngalu’u lepa ini telah diwariskan turun-temurun. Sejarah panjang bersama laut menjadikan masyarakat Bajo cakap melaut dan mahir merawat “alat tempur” mereka. Ngalu’u lepa pun menjadi identitas budaya yang dijaga, sekaligus bukti kearifan suku pelaut dunia.
Menariknya, teknik serupa juga diterapkan di Jepang sejak puluhan tahun lalu. Yakisugi atau Shou Sugi Ban (焼杉板) adalah teknik finishing kayu yang telah dipraktikkan sejak abad ke-18. Jika ngalu’u lepa digunakan untuk merawat perahu, yakisugi diaplikasikan pada kayu bangunan rumah.
Dalam dunia arsitektur, yakisugi dikenal sebagai teknik finishing yang ramah lingkungan dan mampu mempertahankan kualitas kayu hingga ratusan tahun. Proses pembakaran menyebabkan karbonisasi pada permukaan kayu, menghasilkan lapisan hitam khas dari arang. Lapisan inilah yang membuat kayu sangat tahan terhadap kelembaban, air, hama, dan jamur. Kayu juga menjadi lebih awet dan tahan pelapukan. Selain manfaat fungsional, proses karbonisasi juga menonjolkan serat kayu, menciptakan motif elegan yang cocok untuk interior.
“Hasil ini menciptakan motif yang sangat unik dan kuno,” tulis Ni Luh Kadek Resi Kerdiati dalam penelitiannya berjudul, “Understanding Wood Finishing Using The Japanese Wood Burning Technique (Shou Sugi Ban) In Architecture”.

Teknik yakisugi, dianggap ramah lingkungan karena mengurangi ketergantungan pada cat finishing berbahan kimia, serta obat pembasmi hama kayu yang dapat mengganggu kesehatan.
Manfaat pembakaran permukaan kayu juga didukung secara ilmiah. Dalam penelitian Muhammad Randi Pranata dan tim, disebutkan bahwa proses ini meningkatkan sifat fisis kayu. Daya serap air menjadi lebih rendah, kayu tidak rentan terhadap hama dan rayap, serta menunjukkan peningkatan stabilitas dimensi dan ketahanan terhadap kelembaban. Lapisan arang hasil karbonisasi hanya perlu dilapisi dengan cat transparan (coating) untuk mengikat partikel arang agar tidak mudah lepas.
“Pemberian cat ini berfungsi memperkuat struktur permukaan dengan mengikat partikel arang. Selain itu, coating membentuk lapisan pelindung tambahan yang kedap air dan meningkatkan kekuatan terhadap abrasi secara signifikan,” tulis Muhammad Randi dan tim.

