
TOROSIAJE – “Selama kita menerapkan praktek buka tutup, ini pertama kalinya kami panen, banyak sekali perahu sampai lebih dari 100 perahu yang tersebar di semua lokasi penutupan,” kata Husain Onte Ketua kelompok Sipakullong, Rabu 30 Desember 2025.
Perairan Torosiaje nampak cerah, pagi itu ratusan perahu milik nelayan kecil dari berbagai berbagai sudut desa pesisir Torosiaje Kecamatan Popayato, Kabupaten Pohuwato, Gorontalo berbondong-bondong memadati perairan Pulau Besar, Pulau Torosiaje Kecil, dan Lana Besar Batuna atau Reef Batu Besar.
Nelayan sedang “berpesta” sederhana merayakan pembukaan kawasan tangkap gurita yang telah ditutup sejak tiga bulan lalu. Sebelum berburu kutta −gurita dalam bahasa Bajo−, mereka lebih dulu melaksanakan ritual adat Tiba Pina “ritual ini diyakini oleh masyarakat Suku Bajo Torosiaje sebagai bentuk silaturahmi dan memohon keberkahan dengan leluhur mereka di laut,” lalu melepas tanda larangan yang sudah mengapung di atas permukaan air selama berbulan-bulan lamanya.
“Setelah melakukan penutupan sementara dengan luas keseluruhan 308 Ha, berdasarkan kesepakatan bersama dengan seluruh anggota kelompok dan juga nelayan setempat, kami melakukan pembukaan pada hari, Selasa 30 Desember 2025,” terang Husain.
Gurita Melimpah
Perikanan gurita berperan penting pada habitat terumbu karang sebagai makhluk hidup yang habitatnya ada di ekosistem perairan dangkal. Gurita juga menjadi komoditas ekspor yang banyak diekspor yang menembus pasar Jepang, Korea Selatan, Tiongkok, dan beberapa negara Eropa seperti Prancis, serta beberapa negara lain seperti Amerika Serikat, Vietnam, Turki, dan Meksiko.

Fasilitator Japesda di Desa Torosiaje Laut, Ummul Uffia menyampaikan, selama 30 hingga 31 Desember 2025, total hasil tangkapan nelayan yang berhasil dikumpulkan mencapai 403,6 kilogram. Jumlah tersebut terdiri dari 565 ekor, dengan rincian 354 ekor jantan dan 211 ekor betina. Seluruh hasil tangkapan ini dihimpun melalui 9 pengepul yang telah didata oleh enumerator Japesda.
“Banyak hasil tangkapan, melimpah, banyak juga nelayan, bahkan mencapai ratusan orang turun melaut. Untuk bobot gurita juga bervariasi bahkan mencapai tiga kilogram per ekor. Kalau ukuran kecil sekitar 0,4 gram nelayan di sana memilih tidak menangkap meskipun nampak keluar dari sarangnya,” terang Ummul.
Untuk menangkap gurita, nelayan memiliki dua cara. Pertama, menangkap gurita dengan menggunakan kawat atau tampara sambil berjalan di atas batu karang. Kedua, memancing gurita dari atas perahu. Dalam metode memancing, nelayan menggunakan dua jenis pancing yang disebut lepas pocong oleh masyarakat setempat bentuknya menyerupai gurita, serta pancing dengan umpan menyerupai kepiting yang dilengkapi kerang.
“Belum beberapa menit menyelam sudah dapat gurita. Guritanya banyak,” timpalnya.
Melimpahnya hasil tangkapan gurita menjadi kegembiraan tersendiri bagi para nelayan di Torosiaje, karena hasil tersebut berdampak langsung pada peningkatan pendapatan mereka. Selain jumlah tangkapan yang cukup banyak, harga jual gurita di wilayah ini juga tergolong tinggi.
Saat ini, harga gurita di Torosiaje berkisar antara Rp55.000 hingga Rp87.000 per kilogram, tergantung pada ukuran dan kualitas hasil tangkapan, sehingga memberikan nilai ekonomi yang cukup menjanjikan bagi nelayan setempat.
Kendala Patroli Pengawasan
Desa Torosiaje Laut terletak di ujung barat Gorontalo berbatasan dengan wilayah Sulawesi Tengah. Rumah-rumah didirikan di atas permukaan air laut sekitar 600 meter dari bibir pantai, serta masuk dalam kawasan Teluk Tomini.
Upaya yang dilakukan kelompok Sipakullong sejak menerapkan praktik buka tutup area tangkap gurita adalah rutin melakukan patroli. Patroli dilakukan malam dan siang hari. Namun, anggota kelompok menghadapi kendala yang sulit dihindari ketika menjalankan patroli malam.

“Banyak anggota kelompok dan anggota keluarganya yang jatuh sakit, jadi patroli malam hari di bulan ketiga penutupan tidak begitu rutin kami jalankan.” tambahnya.
Menurut Ummul, jika patroli maksimal dijalankan di bulan ketiga menjelang pembukaan, bisa dipastikan hasil tangkapan lebih banyak lagi. Pasalnya, saat patroli pengawasan dilakukan beberapa anggota kelompok masih mendapati sejumlah nelayan yang mencari gurita di dalam kawasan yang ditutup.
“Patroli bulan pertama dan bulan kedua kami rutin siang dan malam hari. Memasuki bulan ketiga ini, patroli malam sudah mulai longgar karena mereka jatuh sakit, atau terkendala menjaga keluarga yang sakit,” pungkasnya.
Sementara itu, kepala Desa Torosiaje Laut Uten Sairullah mengungkapkan jumlah tangkapan nelayan meningkat. Sejak tahun 2020 nelayan gurita dan Kelompok Sipakullong telah menjalankan program perikanan gurita berkelanjutan.
“Praktek buka tutup yang dijalankan oleh Japesda dan taman-taman nelayan Sipakullong ini sangat berhasil. Pendapatan nelayan utamanya nelayan gurita itu lebih tinggi dibandingkan sebelum adanya praktek buka tutup,” kata Uten Sairullah.
Praktik penutupan sementara ini merupakan bagian dari upaya pengelolaan perikanan berbasis kesepakatan bersama. Dengan memberi waktu bagi gurita untuk tumbuh dan berkembang biak, nelayan berharap hasil tangkapan tetap terjaga dan berkelanjutan di masa mendatang.
Keberhasilan panen gurita pasca penutupan ini semakin memperkuat keyakinan nelayan bahwa pengelolaan sumber daya laut secara bijak mampu memberikan manfaat ekonomi sekaligus menjaga kelestarian ekosistem laut.*

