
TOGEAN- Perempuan memiliki peran krusial dalam melawan rantai kemiskinan dengan kegigihan mereka. Di Kepulauan Togean, Sulawesi Tengah, peran perempuan tidak hanya terbatas pada pengelolaan keuangan dan urusan rumah tangga, tetapi juga meluas hingga mengarungi lautan untuk mencari nafkah.
Nursia Nuntung, salah seorang perempuan nelayan yang mencari gurita di Perairan Togean, adalah potret perjuangan hidup yang mendobrak stigma gender. Dengan alat tangkap tradisional, tanpa alat bantu menyelam, Nursia menghadapi risiko cuaca buruk dan ketidakpastian pendapatan.
Pada usia yang tidak lagi muda, Nursia masih menantang ombak Teluk Tomini. Perempuan 40 tahun itu memiliki empat orang anak; tiga di antaranya perempuan dan sudah menikah, satu orang anak laki-laki yang masih bersekolah, dan satu orang suami yang sudah sakit-sakitan.
Secara administratif, Desa Kadoda, yang terletak di Kecamatan Talatako, Kabupaten Tojo Una-Una, Sulawesi Tengah, berada di jantung Taman Nasional Kepulauan Togean. Hampir seluruh penduduk merupakan nelayan ikan dan gurita. Dalam berburu gurita, terdapat perbedaan yang cukup mencolok antara perempuan nelayan dan nelayan laki-laki.
Nursia berburu gurita dengan berjalan di atas karang dan kerap menyelam tanpa alat bantu pernapasan, hanya menggunakan kacamata renang atau diving mask sederhana. Aktivitas ini telah ia jalani selama puluhan tahun, hampir setiap hari, sejak pagi hingga matahari terbenam, selama cuaca memungkinkan.
Sementara itu, nelayan laki-laki menggunakan metode memancing dengan dua alat tangkap: gara-gara pocong, yaitu alat tangkap yang dibuat menyerupai bentuk gurita, lalu gara-gara katang, alat tangkap yang dibuat menyerupai kepiting. Mereka juga memancing pada malam hari.
Tantangan yang dihadapi Nursia dan perempuan nelayan di Desa Kadoda saat berburu Kogito—sebutan gurita dalam bahasa Suku Togian (Togean)—cukup tinggi. Mereka berisiko terseret gelombang, kehabisan napas saat menyelam ke dasar laut, hingga dihantam ombak besar.
“Kadang saat menyelam saya tidak bisa memprediksi kedalamannya, kadang dasar laut sudah gelap, tapi masih ada gurita, kita masih bisa menyelam,” jelas Nursia.

Pengetahuan Ekologis Lokal
Nursia dan perempuan nelayan di Desa Kadoda memiliki pengetahuan ekologis lokal (Local Ecological Knowledge) yang kuat saat berburu gurita. Pengetahuan ini ini mencakup kemampuan mengenali lubang karang persembunyian gurita, perubahan warna pada batu, hingga jejak sisa mangsa gurita.
“Waktu menyelam itu tidak sulit, sangat gampang karena sudah terbiasa dari kecil. Kami bisa tahu kalau ada gurita biasanya dari karang atau dari kulit katangi (kepiting). Tanda ada gurita itu biasanya ada kulit kepiting, berarti ada gurita; bisa juga dari batu karang, jelasnya.
Alci Balula, yang juga sering berburu gurita seperti Nursia, mengatakan bahwa menyelam lebih dari lima menit tanpa alat bantu pernapasan adalah hal yang biasa bagi mereka.
“Kadang saat menyelam, saya menemukan tiga lubang gurita. Kalau ketiganya ada isinya, saya langsung tangkap semuanya sekaligus. Jadi tidak perlu bolak-balik ke permukaan. Lebih capek bolak-balik daripada menyelam,” kata Alci.
Saat menemukan gurita berukuran kecil, Alci memilih untuk tidak menangkapnya. Alasannya sederhana: gurita tersebut akan terus tumbuh dan memiliki nilai jual lebih tinggi ketika bobotnya bertambah.
“Kalau dapat yang kecil, saya tidak mau menangkapnya; saya biarkan saja dia berenang. Saya masih bisa cari yang lain, yang ukurannya lebih besar,” timpalnya.

Ingatan Perempuan di Dasar Laut
Saat menangkap gurita, Alci dan Nursia bertindak tanpa ragu. Dengan tongkat stainless steel sepanjang sekitar satu meter, mereka menelusuri setiap celah karang. Begitu menemukan lubang tempat gurita bersembunyi, tongkat itu langsung ditusukkan dengan tepat, menyambar gurita tanpa memberi waktu untuk melarikan diri. Setiap gerakan mereka cepat dan terukur, hasil bertahun-tahun pengalaman di laut.
“Saya kasihan ketika dapat gurita yang belum mati saat ditusuk di dalam karang. Kadang sedih ketika dapat gurita yang sudah saya pukul beberapa kali tapi tidak mati, kasihan, tapi mau bagaimana lagi, saya juga butuh hidup,” terang Alci.
Selain itu, Alci mengungkapkan bahwa gurita baru membutuhkan waktu beberapa bulan untuk menempati lubang karang yang sebelumnya telah dihuni gurita lain. Gurita juga tidak akan menetap di karang yang telah mengalami kerusakan.
“Kami juga sering pindah-pindah lokasi mencari gurita karena hewan ini sangat sensitif. Kalau masih ada bekas besi dari tangkapan sebelumnya, gurita pasti tidak akan bersembunyi di lobang karang itu,” ujarnya.
Perempuan nelayan gurita sangat bergantung pada kesehatan ekosistem terumbu karang. Karena itu, praktik destructive fishing seperti penggunaan bom ikan yang masih sering terjadi di Desa Kadoda, perlahan akan berdampak langsung pada menurunnya pendapatan perempuan nelayan seperti Alci dan Nursia.
Nelayan pinggir, yang menangkap gurita sangat tergantung pada kondisi alam. Tak jarang mereka gagal menangkap gurita ketika laut sedang mengganas atau tidak punya perahu.
Alci dan Nursia selalu berburu gurita bersama-sama. Selain untuk alasan keamanan, cara ini juga membantu mereka menghemat biaya perjalanan. Ketika Kelompok Nelayan Kogito menerapkan penutupan sementara area tangkap gurita, kedua perempuan itu tetap mencari gurita di perairan lain menempuh perjalanan lebih dari dua jam untuk sampai ke lokasi berburu.
Mereka berkeliling mencari gurita dengan sampan kayu bertenaga mesin kecil, hanya sekitar 3 PK (Horsepower), yang cukup untuk melaju pelan namun stabil di perairan dangkal.
“Di atas perahu itu sudah ada bensin, makanan, kadang kalau tidak ada makanan kami makan apa yang ada di laut, seperti kima. Terus, ada air minum, air untuk mandi, dan pakaian ganti,” timpal Alci.
Bagi Alci, berburu gurita dengan cara menyelam lebih mudah dibandingkan dengan menggunakan pancing. Selain itu, cara ini juga memungkinkan mereka untuk saling memberdayakan dan membantu sesama perempuan nelayan.
“Kalau pakai pancing itu harus ada perahu masing-masing, sedangkan perempuan yang punya perahu sedikit sekali. Kasihan teman-teman yang tidak ada perahu, tidak bisa mencari gurita. Perahu hanya untuk alat transportasi saja,” Jelas Alci.

Panen Gurita Pasca Penutupan Area Tangkap
Kelompok Kogito di Desa Kadoda, menerapkan praktek buka tutup area tangkap gurita yang difasilitasi oleh Jaring Advokasi Pengelolaan Sumber Daya Alam (Japesda) dan Blue Ventures sejak tahun 2022.
Penutupan sementara periode ini dilakukan di dua lokasi, masing-masing diantaranya: Perairan Kadoda, dan Perairan Dambulalo, luas keseluruhan 89,59 Ha, dilakukan pada Oktober 2025 dan telah dibuka pada Januari 2026.
Hasil tangkapan nelayan gurita melimpah, bobotnya bertambah. Namun, tidak dengan Nursia. Ia hanya mendapat dua ekor gurita.
“Saya dengan teman-teman (perempuan nelayan) sudah bolak-balik dari Dambulalo ke Kadoda, terus balik lagi ke Dambulalo, ternyata hanya dapat dua ekor. Gurita sudah dipancing, saat menyelam lobang gurita kosong,” kata Nursia.
Fasilitator Japesda di Desa Kadoda, Titania Aminullah, mengungkapkan bahwa pendapatan nelayan laki-laki dan perempuan berbeda. Salah satu faktor yang memengaruhi perbedaan tersebut adalah teknik penangkapan yang digunakan.
“Lebih cepat memancing dibanding menyelam, lalu teman-teman nelayan perempuan ini kalah cepat.” jelas Titania.
Perempuan alumni Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA) Universitas Negeri Gorontalo menambahkan bahwa pembukaan sementara area tangkap gurita berlangsung lancar. Cuaca cerah tanpa gelombang tinggi, dan bobot gurita yang tertangkap mencapai hingga tiga kilogram. Nelayan dari Desa Kadoda maupun desa tetangga merasa puas setelah penutupan selama tiga bulan.
“Dibandingkan dengan penutupan sebelumnya. Perbedaannya hanya pada bobot saja, soal jumlah hampir sama dibandingkan dengan penutupan sebelumnya,” kata Titania.
Perempuan 28 tahun itu melanjutkan, kualitas gurita dan harga jualnya bervariasi, tergantung pada kondisi dan mutu gurita yang dihasilkan. Total hasil tangkapan nelayan pada hari pembukaan mencapai 267 kilogram dengan jumlah 270 ekor gurita.
“Berdasarkan data yang dikumpulkan teman-teman enumerator, mayoritas gurita yang tertangkap berada pada ukuran A (12 kilogram) sebanyak 132 ekor,” timpalnya.

Sejumlah nelayan tercatat masih menangkap gurita berukuran 0,3 sampai 0,4 kilogram, ukuran yang seharusnya belum layak tangkap. Hasil tangkapan memberikan dampak ekonomi. Tiga nelayan tercatat memiliki pendapatan mencapai Rp1 juta pada hari itu.
“Enumerator juga mencatat nelayan dari desa tetangga yang ikut memanen gurita. Namun, hasil tangkapan mereka belum sempat didata,” tutupnya.
Sebelumnya, area tangkap gurita di Desa Kadoda telah ditutup sementara selama tiga bulan sebagai bagian dari upaya pengelolaan sumber daya laut. Pembukaan kembali area tangkap pada periode ini telah lama dinantikan oleh para nelayan, mengingat gurita menjadi salah satu sumber penghidupan utama masyarakat setempat.*

