Perkumpulan Japesda

Hutan Gorontalo Menyusut, Julang Sulawesi Makin Terancam

 Julang Sulawesi atau Rhyticeros cassidix. Foto: Yusran Hamdjati/Japesda.

ILOMATA – Selama 10 tahun terakhir perjumpaan dengan burung Julang Sulawesi atau Rhyticeros cassidix atau tangao (dalam bahasa Suwawa: Gorontalo) di desa penyangga Taman Nasional Bogani Nani Wartabone semakin sedikit. Hal ini diungkapkan oleh Warga Desa Ilomata, Kecamatan Bulango Ulu, Kabupaten Bulango Ulu.

“Tahun 2014, di depan rumah kami masih dengar suaranya, duduk di teras rumah masih melihat rangkong terbang, sekarang harus masuk dalam kawasan hutan, ketika berada di hutan pun tidak tidak seperti dulu,” kata Rahman Supu (50).

Pernyataan Rahaman sejalan dengan data yang dipublikasikan oleh Taman Nasional Bogani Nani Wartabone (TNBNW). Populasi julang sulawesi memang belum dapat dipastikan, tetapi diperkirakan telah menurun sekitar 40 persen dalam lebih dari tiga generasi hidupnya.

Julang Sulawesi termasuk satwa yang dilindungi dan keberadaannya diatur dalam Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor P.106/MENLHK/SETJEN/KUM.1/12/2028, yang merupakan perubahan kedua atas Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor P.20/MENLHK/SETJEN/KUM.1/6/2018 tentang jenis tumbuhan dan satwa yang dilindungi.

Burung ini merupakan jenis endemik Sulawesi dan tersebar di seluruh pulau Sulawesi, termasuk juga di Lembeh, Kepulauan Togean (Sulawesi Tengah), Pulau Buton, hingga Pulau Muna (Sulawesi Tenggara).

Menurut International Union for Conservation of Nature  (UICN) tahun 2017 julang Sulawesi termasuk kategori vulnerable atau rentan. Status ini disebabkan penurunan populasi akibat kerusakan habitat dan perburuan liar, yang terus berlanjut dan mengancam kelangsungan hidup spesies ini.

Di Gorontalo, menurunnya populasi burung dengan sebutan petani hutan ini selain disebabkan oleh perburuan liar, juga faktor lainya adalah deforestasi hutan alam.

Forest Watch Indonesia (FWI) mencatat sejak tahun 2017 sampai 2023  Provinsi Gorontalo mengalami deforestasi dengan luas 35.770 hektar tutupan hutan. Provinsi ini tercatat memiliki 10 izin bioenergi tersebar di 282.100 hektar lahan. Hingga tahun 2023 hutan alam yang tersisa di Gorontalo tinggal 693.795 hektar.

Untuk lebih mudah memahami seberapa luas kerusakanan hutam alam di Bumi Serambi Madinah setara lima kali luas Kota Gorontalo.

Hutan Tergerus, Habitat Burung Petani Hutan Terancam

Deforestasi hutan alam di Gorontalo  banyak terjadi di Kabupaten Pohuwato, Gorontalo Utara, dan Bone Bolango. Kondisi ini umumnya dipicu oleh alih fungsi lahan untuk kegiatan pertambangan, perluasan perkebunan perusahaan, serta pembukaan ladang kelapa sawit yang mendorong terjadinya deforestasi.

Bukan hanya itu, alih fungsi lahan juga terjadi di kawasan konservasi dan kawasan lindung, seperti Cagar Alam Panua, Cagar Alam Tanjung Panjang, Taman Nasional Bogani Nani Wartabone, dan Suaka Margasatwa Nantu.

Hilangnya tutupan hutan dalam skala besar turut berpengaruh pada habitat dan ekologi burung yang dikenal sebagai arsitek hutan tropis. Burung Julang Sulawesi termasuk dalam kelompok rangkong (Blucerotidae) dari 13 jenis rangkong yang ada di Indonesia. Dilansir dari website TNBNW rangkong  memiliki bentuk badan yang besar dapat mencapai sekitar satu meter sementara itu sayap dan seluruh badanya berwarna hitam dengan ekor putih. Jantan memiliki leher kuning kecoklatan dengan paruh kuning, tembolok biru cerah, dan dua cula di atas paruhnya yang merah menyala. Sementara betina sedikit berbeda, cirinya leher hitam dan cula kepala kuning.

Dilansir dari mongabay Musim kawin Julang Sulawesi umumnya berlangsung antara Juni hingga September setiap tahun. Selama masa pengeraman, betina tetap berada di dalam sarang dan tidak keluar hingga telur menetas. Dalam periode ini, jantan bertugas mencari dan mengantarkan makanan bagi pasangannya. Dari setiap musim berbiak, pasangan julang biasanya hanya menghasilkan satu anak. Burung ini juga dikenal memiliki satu pasangan tetap sepanjang hidupnya.

Peran Rangkong bagi Hutan

Burung julang memiliki peran ekologis yang krusial. Sebagai pemakan buah, rangkong menelan buah secara utuh lalu mengeluarkan kembali bijinya melalui muntahan atau kotoran. Peran ekologis rangkong sangat penting untuk regenerasi hutan secara alami

Julang sulawesi sangat bergantung pada keberadaan hutan primer yang masih baik kadang masih dapat dijumpai di hutan sekunder. Burung ini dapat ditemukan sekitar 1.800 mdpl, lebih sering terlihat di wilayah dataran rendah. 

Di Desa Ilomata warga mengungkapkan perjumpaan dengan julang semakin jarang sejak sepuluh tahun terakhir.

Tim smart patrol Cahaya Terang Ilomata sedang melakukan patroli di dalam kawasan Resort Bulango TNBNW. Foto: Japesda.

“Dulu di di dalam rumah kita masih mendengar suara burung rangkong pagi hari, sekarang kami sudah tidak sering mendengar suara rangkong, suaranya akan kedengaran ketika kami melakukan patroli di dalam kawasan hutan,” jelas Rahaman.

Rahman juga mengungkapkan perburuan perburuan terhadap burung rangkong juga sudah tidak dilakukan lagi semenjak ada larangan. Selain itu, perjumpaan dengan burung rangkong lebih sering saat dirinya melakukan patroli di dalam kawasan Resort Bulango TNBNW.

“Sejak tahun 2023 sampai sekarang kami Kelompok Cahaya Terang Ilomata yang difasilitasi oleh Japesda rutin melakukan patroli di dalam kawasan TNBNW,” timpalnya.

Lantas apa yang terjadi jika Julang benar-benar hilang? Tentu dampaknya tidak kecil. Jika burung ini benar-benar lenyap ditambah lagi habitatnya rusak karena deforestasi, maka keseimbanagn ekosistem ikut goyah. Rantai kehidupan yang selama ini saling terhubung bisa terputus. Bukan hanya itu, keanekaragaman hayati juga terancam. Dalam jangka panjang, kondisi ini bisa memicu berbagai bencana alam.

Warga Desa Ilomata sejak tahun 2023 hingga saat ini masih masif melakukan patroli di dalam kawasan Resort Bulango TNBNW. Smart Patrol dilakukan oleh masyarakat ilomata yang difasilitasi oleh Jaring Advokasi Pengelolaan Sumber Daya Alam (Japesda). Pengawasan di dalam kawasan konservasi memakan waktu berhari-hari. Mereka menggunakan teknologi Spatital Monitoring and Reporting Tools.*

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *