
TOGEAN – Malam itu tak banyak suara selain desir angin dan ombak yang berkejaran pelan. Para nelayan berkumpul dalam lingkar sederhana saat gelap menyelimuti Pulau Papan, Desa Kadoda, Kecamatan Talatako, Kabupaten Tojo Una-Una, Sulawesi Tengah.
Hari itu, minggu, 26 April 2026. Waktu menujukkan pukul 19.00 WITA. Suasana hangat tercipta di atas rumah panggung yang berdiri di permukaan laut, di tengah Teluk Tomini. Sebagian duduk di bangku kayu, yang lainnya bersandar pada dinding rumah. Di antara mereka ada nelayan laki-laki, perempuan nelayan, anak muda, hingga orang-orang yang sehari-hari menggantungkan hidup dari laut.
Mereka sedang menyusun rencana penutupan sementara dua area tangkap gurita. Tujuannya sederhana: memberi waktu bagi gurita untuk tumbuh dan berkembang agar bobotnya bertambah dan hasil tangkapan nelayan kembali melimpah.
Empat hari sebelumnya, sejak 22 hingga 25 April 2026, mereka telah melakukan kerja-kerja kolektif. Tangan-tangan yang biasa memegang gara-gara katangi—alat pancing gurita dalam bahasa lokal—dan tombak besi, sibuk memotong kayu dan gabus. Kain putih berukuran 30 sentimeter persegi dicat bergambar gurita, sementara karung-karung diisi pasir.

“Ini bukan kali pertama kami menjalankan program buka-tutup area tangkap gurita. Kami melakukan ini sudah bertahun-tahun, jadi bukan sesuatu yang baru bagi nelayan pencari gurita di Desa Kadoda,” kata Titania Aminullah, staf lapangan JAPESDA di Desa Kadoda.
Keesokan paginya, 27 April, tanda larangan menangkap gurita mulai terpasang di Reef Dambulalo seluas 28,7 hektare. Bukan hanya itu, penutupan juga dilakukan di Perairan Kadoda dengan luas 64,09 hektare.
“Total keseluruhan area penutupan sementara periode ini mencapai 92,97 hektare. Laut kini berada dalam status temporary closure selama tiga bulan ke depan,” ujar Titania.
Langkah ini dilakukan oleh Kelompok Nelayan Kogito bersama warga Desa Kadoda untuk menjaga populasi gurita dan ekosistem laut di perairan mereka. Penutupan sementara memberi kesempatan bagi gurita untuk berkembang biak dan tumbuh lebih besar sebelum kembali ditangkap.

Perempuan Nelayan
Penutupan sementara area tangkap gurita tidak menjadi penghalang bagi perempuan-perempuan penakluk ombak untuk berburu gurita. Meski aktivitas penangkapan gurita dibatasi sementara waktu, untuk mendapatkan rupiah sekaligus menjaga sumber daya laut, para perempuan pesisir tetap berdaya dengan berburu gurita di lokasi lain.
“Kalau tidak melaut saya kerja apa?” tanya Alci.
Pertanyaan Alci itu dilontarkan ketika ditanya apakah ada alternatif lain selain laut untuk menggantungkan hidup.
Alci adalah ibu tiga anak yang telah mencari gurita sejak 2019. Berbekal pengetahuan ekologi lokal serta kemampuan menyelam yang terlatih sejak kecil, Alci dapat dengan mudah menaklukkan seluk-beluk terumbu karang di perairan sekitar Pulau Papan sekitarnya. Ia mampu menyelam tanpa alat bantu modern, hanya dengan menggunakan kacamata renang. Untuk berburu gurita, Alci menggunakan alat panah sederhana sepanjang 40 sentimeter. Lokasi tangkap Alci dan nelayan di Desa Kadoda, tepat berada di jantung Teluk Tomini.

“Kalau menyelam bisa sekitar lima dan ke dalamnya bisa sampai 10 meter ke bawah,” timpalnya.
Menurunya berburu gurita lebih mudah dibandingkan dengan membuang jala ikan. Selain itu, harga gurita juga relatif lebih mahal.
“Harga gurita saat ini mulai dari kisaran 60 sampai 90 ribu rupiah per kilogram tergantung kualitas,” jalas Alci.
Meski penutupan sementara membuat hasil tangkapan nelayan lebih banyak dengan bobot gurita yang lebih besar, perempuan nelayan seperti Alci harus berlayar lebih jauh untuk mencari lokasi berburu baru selama penutupan berlangsung.
“Kalau ada penutupan, kami mencari gurita di perairan lain. Biasanya kami berlayar satu sampai dua jam,” papar Alci.
Namun, setelah area tangkap kembali dibuka, perempuan nelayan turut merasakan manfaatnya. Hasil tangkapan gurita menjadi lebih banyak dan ukuran gurita yang didapat cenderung lebih besar dibandingkan sebelumnya.
Meski begitu, selama masa penutupan mereka tetap menghadapi tantangan. Selain harus menempuh perjalanan lebih jauh, biaya dan tenaga yang dikeluarkan untuk melaut juga ikut bertambah.
Di sisi lain, setelah area tangkap kembali dibuka, pendapatan perempuan nelayan pada 2025 lalu tidak sebesar nelayan laki-laki. Hal itu dipengaruhi oleh cara menangkap gurita yang berbeda.
Perempuan nelayan biasanya menyelam setelah matahari terbit untuk mencari gurita perairan dangkal. Sementara nelayan laki-laki dapat berburu pada malam hari menggunakan alat pancing tradisional yang dikenal sebagai gara-gara. Perbedaan cara menangkap ini membuat perempuan nelayan harus berjuang lebih besar dibanding nelayan laki-laki.***

