Perkumpulan Japesda

Ketika Rumput Liar Ternyata Obat: Ilomata Merawat Kembali Pengetahuan Leluhur

Pelatihan mengidentifikasi jenis-jenis tanaman herbal yang berpotensi menjadi pengobatan alternatif (home remedy). Minggu (9/8/2026). Foto: Japesda.

Di pekarangan rumah-rumah warga Desa Ilomata, tumbuhan yang selama ini dianggap sekadar rumput liar ternyata menyimpan riwayat panjang sebagai obat. Pengetahuan itu telah diwariskan lintas generasi, dipraktikkan diam-diam di dapur dan pekarangan, namun perlahan kehilangan penuturnya.

Hadija Maino (63) adalah salah satu dari sedikit orang yang masih menyimpan pengetahuan itu utuh. Sejak kecil, ia telah mengkonsumsi tumbuhan herbal yang tumbuh liar di sekitar rumahnya di Desa Ilomata, Kecamatan Bulango Ulu, Kabupaten Bone Bolango, Gorontalo. Bagi generasinya, mengenali daun mana yang bisa meredakan demam atau meringankan asam urat bukan ilmu istimewa, melainkan bagian dari cara hidup sehari-hari yang diwariskan begitu saja, dari orang tua ke anak, tanpa perlu dicatat.

“Dari orang-orang tua dulu, kita diajarkan soal obat,” kata Hadija, mengenang bagaimana pengetahuan itu sampai kepadanya.

Namun jarak generasi perlahan mengubah cara pandang terhadap tumbuhan-tumbuhan yang sama. Merlan Badu, pemuda 23 tahun asal Ilomata, adalah salah satu contohnya. Sebelum mengikuti pelatihan yang digelar Jaringan Advokasi Pengelolaan Sumber Daya Alam (Japesda), tumbuhan-tumbuhan yang tumbuh di pekarangan rumahnya tak lebih dari rumput biasa, tak bernama dan tak berguna.

“Sebelum ikut pelatihan dan turun bersama ibu-ibu dan bapak-bapak mencari tanaman herbal, saya kira ini (tumbuhan herbal) hanya rumput yang tidak ada manfaatnya. Ternyata ini obat dan punya nama lokalnya,” katanya.

Astin Kabi (30) mengalami keterkejutan serupa. Ia mengira dirinya cukup mengenal tanaman obat di sekitarnya, sampai ia menyadari betapa terbatasnya yang ia ketahui.

“Saya tahu beberapa tumbuhan, tapi tidak sebanyak ini. Ternyata banyak sekali tumbuhan yang bisa kita manfaatkan sebagai obat,” ujarnya.

Kesaksian-kesaksian ini menggambarkan sebuah kesenjangan pengetahuan atas tanaman obat, tumbuhan yang sama, di pekarangan yang sama, bisa berarti apotek hidup bagi satu generasi dan sekadar semak bagi generasi berikutnya.

Hadija Maino saat menjelaskan pemanfaatan cocor bebek sebagai obat alami bisul berdasarkan pengetahuan lokal masyarakat, Minggu (9/8/2026). Foto: Japesda.

Menyisir Kampung, Mengumpulkan Ingatan

Selama dua hari, 8–9 Agustus 2026, Kantor Desa Ilomata menjadi ruang pertemuan bagi 60 warga lintas usia dalam Pelatihan Identifikasi Jenis-Jenis Tanaman Herbal yang Berpotensi Menjadi Pengobatan Alternatif (Home Remedy). Hari pertama dihabiskan di dalam ruangan, mereka  berdiskusi tentang tanaman obat keluarga (TOGA), tanaman herbal, dan cara mendokumentasikan pengetahuan tradisional yang selama ini hanya hidup dalam ingatan para orang tua.

Hadija membagikan beberapa resepnya, mulai dari ramuan daun sirsak, daun salam, bawang putih, kunyit putih, sereh, kunyit, jahe, temulawak, bayam duri, daun kayu manis, hingga daun pare. Bahan-bahan itu, katanya, bisa mencegah dan meringankan kolesterol, asam urat, diabetes, penyakit jantung, sampai batu ginjal. Semuanya tumbuh di sekitar rumah, tak perlu dicari jauh-jauh. Sebagian direbus 10 hingga 15 menit sebelum diminum, sebagian lain cukup diolah tanpa perebusan sama sekali.

Tapi bagi Hadija, meracik obat bukan sekadar urusan bahan dan takaran. Ada tata cara yang mengiringi setiap proses pengambilannya. Aturan yang tak tertulis, namun dipegang teguh. Daun untuk ramuan tertentu, misalnya, sebaiknya dipetik pada pagi hari, dalam jumlah ganjil, dan hanya dari bagian pucuk tanaman. Sebelum tangan menyentuh daun, mulut harus lebih dulu melafalkan selawat dan basmalah.

“Selawat dan basmalah ini wajib dilakukan, tidak boleh tidak, dan daunnya harus berjumlah ganjil,” terangnya.

Jika hari pertama adalah ruang untuk bertukar cerita, hari kedua adalah ruang untuk membuktikannya di lapangan. Peserta menyisir kampung dan kawasan sekitar permukiman, menelusuri pekarangan dan tepi jalan, mengumpulkan tumbuhan yang selama ini dikenal atau pernah dimanfaatkan warga sebagai obat. Satu per satu tumbuhan itu dikumpulkan berdasarkan pengetahuan warga, sebelum diidentifikasi bersama-sama.

Bagi Program Manager Pertanian Cerdas Iklim Japesda, Nurain Lapolo, kegiatan ini adalah bagian dari program Pertanian Cerdas Iklim atau Climate Smart Agriculture (CSA) yang tengah berjalan di Ilomata. Desa yang, menurutnya, menyimpan kekayaan flora yang tak sedikit, tapi pengetahuan tentang cara mengenalinya perlahan meredup.

“Desa Ilomata menyimpan kekayaan flora yang cukup tinggi. Namun, pengetahuan lokal mengenai identifikasi tanaman obat keluarga atau tanaman herbal sebagai home remedy perlahan mulai ditinggalkan,” kata Nurain, Minggu (9/8/2026).

Baginya, ketahanan sebuah komunitas tak melulu soal ketersediaan pangan. Kemandirian menjaga kesehatan keluarga, kata Nurain, sama pentingnya.

“Japesda mendorong masyarakat melakukan re-edukasi saintifik terhadap pengetahuan yang telah mereka miliki. Pengetahuan tradisional tidak sekadar diingat kembali, tetapi juga didokumentasikan,” tutupnya.

Saat Pengetahuan Leluhur Bertemu Meja Laboratorium

Namun pengetahuan turun-temurun saja tak cukup untuk memastikan tumbuhan itu aman dikonsumsi. Abubakar Sidik Katili, dosen Jurusan Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA) Universitas Negeri Gorontalo, hadir sebagai narasumber untuk meluruskan satu anggapan yang kerap keliru, bahwa segala sesuatu yang alami pasti aman.

Abubakar Sidik Katili (kiri) bersama Nurain Lapolo (kanan) saat menyampaikan materi pada pada kegiatan pelatihan mengidentifikasi jenis-jenis tanaman herbal di Kantor Desa Ilomata, Sabtu (8/9/2026). Foto: Japesda.

“Jika sudah kronis, sebaiknya konsultasi ke dokter. Obat herbal itu tujuannya untuk pemulihan dan pencegahan. Ada beberapa jenis tumbuhan yang tidak boleh dikonsumsi setiap hari,” katanya.

Dari penelusuran sementara, tercatat sekitar 65 jenis tumbuhan yang dimanfaatkan warga Ilomata sebagai ramuan tradisional, angka yang menurut Abubakar masih jauh dari final. Kemungkinan besar, jumlah tumbuhan yang sesungguhnya dimanfaatkan warga lebih banyak dari yang berhasil terdata hari itu.

“Pengetahuan lokal dan kebiasaan turun-temurun harus didokumentasikan, jangan sampai punah. Temuan hari ini akan kita identifikasi terlebih dahulu,” imbuhnya.

Ke depan, kata Abubakar, dibutuhkan penelusuran yang lebih mendalam untuk memetakan jenis, spesies, dan kandungan dari tumbuhan-tumbuhan tersebut.

“Untuk kandungannya, kita harus melibatkan orang-orang yang kompeten di bidangnya, agar bisa diketahui zat apa saja yang terkandung dari sekitar 65 jenis tumbuhan herbal ini,” tutupnya.

Dari pekarangan rumah Hadija Maino, pengetahuan yang nyaris hilang itu kini tengah menempuh jalan panjang, dari ingatan lisan menuju catatan ilmiah, dari dapur menuju laboratorium, dengan harapan agar rumput liar yang ternyata obat tak lagi terlupakan oleh generasi berikutnya.**

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *