Perkumpulan Japesda

Mendatangi Rumah demi Rumah, Menjaga Kebiasaan Menabung Nelayan

Sri Dewi K. Nagi, meraih penghargaan sebagai pendamping lapangan inklusi keuangan terbaik se-Asia pada ajang Whole Planet Foundation – Field Officer Appreciation Award tahun 2026.

Siapa menyangka, papan kayu jembatan yang menghubungkan rumah-rumah terapung di bagian barat Provinsi Gorontalo mengantarkan Sri Dewi K. Nagi menjadi  pendamping masyarakat terbaik di Asia.

Setiap hari, papan-papan kayu itu menjadi jalan yang dilalui Dewi. Ia berjalan dari satu rumah ke rumah lain di Desa Torosiaje, Kecamatan Popayato, Kabupaten Pohuwato. Di bawahnya, air Teluk Tomini mengalir. Di sekelilingnya, rumah-rumah masyarakat Suku Bajo berdiri di atas laut.

Dewi tidak hanya berhadapan dengan laut dan kehidupan nelayan Bajo. Ia juga berhadapan dengan sesuatu yang pada awalnya terasa asing baginya: inklusi keuangan.

Sejak Juni 2023, perempuan berusia 29 tahun itu menjadi penanggung jawab program Keuangan Inklusif di Jaringan Advokasi Pengelolaan Sumber Daya Alam (Japesda). Sebelumnya, pada 2021, ia bertugas sebagai enumerator dalam pendataan gurita.

Kali ini tugasnya berbeda. Ia tidak sekadar datang untuk mengumpulkan data gurita. Dewi harus tinggal dan bekerja bersama masyarakat, mendampingi Kelompok Sipakullong menjalankan program inklusi keuangan komoditas pesisir.

Ia membangun kedekatan dengan nelayan Suku Bajo melalui proses adaptasi bahasa, budaya, dan kebiasaan sehari-hari. Tinggal langsung bersama masyarakat membuat Dewi memahami bahwa kerja pendampingan bukan sekadar datang ketika ada kegiatan, lalu kembali ke kota setelah pekerjaan selesai.

Ia tinggal di Torosiaje sejak 2021 hingga sekarang. Desa terapung itu hanya dapat diakses dengan perahu, dan rumah-rumah warganya dihubungkan oleh jembatan kayu yang membentang di antara permukiman.

Penyesuaian Itu Tidak Selalu Mudah

Dewi harus terbiasa dengan terik matahari yang terasa lebih menyengat di atas laut. Persediaan air bersih terbatas. Harga kebutuhan sehari-hari juga lebih mahal dibandingkan di daratan.

Bukan hanya itu, kebiasaan menyeruput kopi di kedai-kedai kota, yang sebelumnya mudah dilakukan, pun harus ditinggalkan. Di tempat baru itu, Dewi perlahan menemukan ritme hidup yang berbeda, meski rasa jenuh dan bosan kerap datang.

Ia belajar memahami kapan nelayan pergi melaut, bagaimana cuaca memengaruhi penghasilan mereka, dan mengapa menyisihkan uang untuk ditabung tidak selalu mudah bagi keluarga nelayan.

Pada Desember 2023, kegiatan simpan pinjam Kelompok Sipakullong mulai dijalankan. Di titik itulah tantangan Dewi justru semakin nyata. Mengajak nelayan menabung tidak cukup hanya dengan menjelaskan manfaat menyimpan uang.

“Ada tahapan program yang harus dilalui sebelum simpan pinjam berjalan. Di awal-awal tidak mudah meyakinkan nelayan untuk menabung, dan itu luar biasa sulit,” kata Dewi.

Ia harus menemukan cara agar kebiasaan menabung dapat berlangsung di tengah pendapatan nelayan yang tidak menentu.

Langkah Dewi semakin tersendat. Pada Januari 2025, hanya satu anggota yang masih tercatat menabung. Sebulan kemudian, keadaan memburuk: dari Februari hingga Maret, tidak ada satu pun anggota yang menabung.

“Saat itu tidak ada yang menabung karena cuaca dan pendapatan nelayan tidak ada. Saya pusing memikirkan kegiatan ini tetap berjalan, makan pun tidak enak,” kenang Dewi.

Ia kemudian mencari tahu penyebab anggota berhenti menabung. Dari situ ia menemukan dua persoalan yang paling sering dihadapi nelayan: cuaca dan tagihan koperasi. Ketika cuaca buruk, nelayan tidak bisa melaut. Penghasilan terhenti, tetapi kewajiban membayar cicilan koperasi tetap berjalan.

Dewi memutar cara. Jika menabung dalam jumlah tertentu terasa berat, mengapa tidak dilakukan sedikit demi sedikit?

“Saya benar-benar pasrah saat itu, hingga pada akhirnya saya menekan ego sendiri. Saya menawarkan untuk menabung setiap hari, dan saya sendiri yang menawarkan diri berkunjung ke setiap rumah. Tawaran itu akhirnya disetujui tanpa ada satu pun yang menolak.”

Sejak April 2024, Dewi mulai rutin mendatangi rumah anggota yang menabung. Kepercayaan mulai terbangun. Tak jarang, justru anggota kelompok yang menghampirinya untuk menyisihkan tabungan harian.

Setiap hari, rumah-rumah anggota menjadi bagian dari ruang kerjanya. Ada kalanya Dewi merasa malu. Ia bahkan sempat bertanya kepada dirinya sendiri: apa bedanya dirinya dengan rentenir jika setiap hari datang ke rumah orang untuk meminta uang?

Namun, pikiran itu ia tepis. “Lima ribu setiap hari, kata nelayan itu, tidak berat,” ujarnya.

Bagi Dewi, uang Rp5.000 bukan sekadar nominal. Di tengah penghasilan yang bergantung pada hasil melaut, jumlah kecil yang dikumpulkan secara rutin dapat menjadi awal dari kebiasaan mengelola keuangan.

Dari Tabungan Menjadi Dana Sosial

Perlahan, kepercayaan anggota tumbuh. Kelompok tidak hanya mengumpulkan tabungan. Setiap kali anggota menabung, sebagian dana juga dikumpulkan sebagai dana sosial. Dana tersebut diperuntukkan bagi anggota yang sedang mengalami kesulitan dan membutuhkan bantuan.

Kata Dewi, dana sosial itu mulai dirasakan manfaatnya oleh anggota kelompok. Bagi mereka yang sebelumnya ragu menabung, keberadaan dana sosial memberi alasan lain untuk tetap berada dalam kelompok. Menabung tidak lagi semata-mata menyimpan uang untuk kepentingan pribadi, tetapi juga menjadi bagian dari mekanisme saling membantu.

Kepercayaan yang semula sulit dibangun itu pun mulai tumbuh. Kelompok yang pada awalnya hanya beranggotakan 10 orang kini berkembang menjadi 24 orang, terdiri atas 16 nelayan laki-laki dan 8 nelayan perempuan. Pertumbuhan itu menjadi salah satu tanda bahwa keraguan terhadap kegiatan simpan pinjam perlahan berkurang.

Dewi masih menyusuri lorong-lorong kayu di atas laut. Rumah-rumah yang dahulu ia datangi untuk menemui anggota kini menjadi bagian dari perjalanan panjangnya sebagai pendamping masyarakat.

Kerja itu kemudian membawanya pada sebuah penghargaan. Pada pertengahan 2026, Dewi menjadi pemenang nominasi Whole Planet Foundation – Field Officer Appreciation Award. Penghargaan tersebut merupakan bentuk apresiasi atas dedikasi, komitmen, dan kerja kerasnya dalam mendampingi masyarakat serta mendorong dampak positif melalui program inklusi keuangan komoditas pesisir.

Namun, bagi Dewi, penghargaan itu bukan akhir dari pekerjaannya. Yang lebih penting justru proses panjang di belakangnya: belajar memahami kehidupan nelayan, menerima kenyataan bahwa sebuah program tidak selalu berjalan sesuai rencana, lalu mencari cara lain ketika cara pertama tidak berhasil.

Di Torosiaje, kerja pendampingan itu akhirnya bukan sekadar soal berapa banyak uang yang berhasil ditabung. Ia juga tentang membangun kebiasaan, menjaga kepercayaan, dan memastikan masyarakat memiliki ruang untuk mengelola hasil kerja mereka sendiri.

Dari tabungan yang dikumpulkan sedikit demi sedikit, muncul dana sosial. Dari dana sosial, tumbuh rasa saling membantu. Dari situ pula kepercayaan terhadap kelompok mulai terbentuk.

Kontribusi Dewi pun tidak berhenti pada akses keuangan. Pendampingan tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat masyarakat pesisir agar memiliki kemampuan mengelola sumber daya dan penghidupan mereka secara lebih berkelanjutan.

Dan setiap hari, Dewi masih berjalan di atas papan-papan kayu itu, dari satu rumah ke rumah lainnya.*

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *