Perkumpulan Japesda

Laju Deforestasi di Ilomata Turun 30 Persen dalam Empat Tahun

Batas kawasan hutan Desa Ilomata dengan kawasan konservasi Taman Nasional Bogani Nani Wartabone, 2025. Dokumentasi: Japesda

ILOMATA, GORONTALO — Kabar menggembirakan datang dari bentang alam Taman Nasional Bogani Nani Wartabone. Pasalnya laju kehilangan tutupan hutan di Desa Ilomata, Kabupaten Bone Bolango, Gorontalo, tercatat turun 30,5 persen atau setara 26,1 hektare pada periode 2022–2025 dibandingkan empat tahun sebelumnya.

Melalui analisis citra satelit deforestasi di Ilomata terpantau jauh lebih rendah dibandingkan  dengan Desa Konaromm Utara, Kabupaten Bolaang Mongondow, Sulawesi utara, Desa Banuada dan Desa Karatuan Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat.

Tiga Desa Ini menjadi desa pembanding di Pulau Sulawesi dengan kemiripan letak bukan kriteria.

Analisis yang dilakukan oleh YPI menggunakan metode matching control. Dengan itu bisa dikatakan program pendampingan di salah satu desa penyangga TNBNW ini mampu menyelamatkan sekitar 5,7 hektare hutan.

Selisih ini menggambarkan bahwa kehilangan hutan di Ilomata jauh lebih rendah dari perkiraan, terlebih lagi, 84 persen dari lahan yang hilang tersebut berada di luar batas kawasan taman nasional, yang berarti kawasan inti konservasi tetap terjaga dengan baik.

Sumber: Yayasan Planet Indonesia, 2026.

Penurunan tersebut terjadi di tengah pendampingan pertanian cerdas iklim dan penguatan sistem pemantauan kawasan hutan yang didorong oleh Jaring Advokasi Pengelolaan Sumber Daya Alam (JAPESDA) bersama Yayasan Planet Indonesia (YPI). Perlahan, masyarakat mulai menyadari bahwa merambah hutan untuk menanam jagung di lereng curam justru membawa lebih banyak kerugian daripada keuntungan.

Rahman Mooduto, adalah petani di Desa Ilomata. Baginya bertani jagung lahan dengan lereng perbukitan yang curam seperti Ilomata tidak sebanding dengan tingginya biaya yang harus dikeluarkan. Selain medan yang curam, petani juga ketergantungan untuk terus membeli benih dan pupuk, sedangkan harga jual hasil panen seringkali tidak menentu dan gagal memberikan keuntungan.

“Kalau bertani jagung, kami hanya dapat lelahnya saja. Semua bibit dibeli, harganya di bawah, pupuk juga dibeli,” ungkap Rahman.

Sejak JAPESDA menjalankan program pendampingannya, Rahman mulai menerapkan pertanian tumpang sari (agroforestri). Lahannya kini ditanami berbagai komoditas bernilai ekonomi dalam satu hamparan, mulai dari pala, alpukat, pisang, mangga, rambutan, hingga lada.

Tak sekedar menyalurkan bibit, JAPESDA juga membekali para petani dengan keterampilan membuat bibit persemaian sendiri, memproduksi pupuk organik, dan pestisida alami.

Sumber: Yayasan Planet Indonesia, 2026.

“JAPESDA datang selain menyalurkan bibit, kami juga diajarkan bagaimana membuat bibit persemaian sendiri, pupuk organik, hingga pestisida alami,” tambah Rahman.

Lewat keterampilan inilah diharapkan membantu petani mengurangi ketergantungan pada sarana produksi yang harus dibeli. Meski tanaman tumpang sari di lahan kebun Rahman baru berusia sekitar dua tahun dan belum menghasilkan panen, sehingga manfaat ekonomi penuhnya belum bisa dihitung secara menyeluruh.

“Meskipun belum ada ada hasilnya (panen) tapi saya yakin pertanian dengan model agroforestri ini bisa menguntungkan petani seperti saya,” timpalnya.

Perubahan pola tanam di Ilomata seperti yang dilakukan oleh Rahman dan anggota Kelompok Cahaya Terang Ilomata masih dalam tahap pengembangan.

Penghematan biaya produksi menjadi salah satu manfaat yang mulai dirasakan, sedangkan potensi pendapatan dari pala, buah-buahan, dan lada masih perlu dilihat ketika tanaman memasuki masa produktif.

Warga bergotong royong membuat terasering untuk mengoptimalkan lahan garapan dan mengurangi pembukaan lahan baru. Terasering tersebut nantinya ditanami berbagai jenis tanaman. Dokumentasi: Japesda

Mengoptimalkan kebun, mengurangi tekanan terhadap hutan

Pertanian tumpang sari merupakan salah satu pendekatan dalam program pertanian cerdas iklim. Berbeda dengan monokultur yang sangat rentan karena hanya bergantung pada satu komoditas, pola ini mengkombinasikan keberagaman tanaman dalam satu lahan. Hal ini membuka peluang bagi petani untuk meraup hasil panen yang bersilangan waktunya, sekaligus mengurangi risiko ketergantungan pada satu sumber pendapatan saja.

Dalam konteks perlindungan lingkungan, pengembangan kebun yang produktif dan efisien biaya di lahan yang sudah ada diharapkan mampu menekan dorongan warga untuk membuka lahan baru di dalam kawasan hutan. Meski dampak transisi ini masih perlu dinilai lebih jauh melalui indikator produktivitas panen dan ketahanan tanaman terhadap cuaca, langkah awalnya telah memberi fondasi kemandirian yang kuat bagi petani.

Selain berinovasi di kebun, warga Ilomata kini aktif menjadi garda terdepan penjaga hutan melalui kelompok SMART Patrol. Bagi warga seperti Rahman, rutinitas patroli menjadi ruang belajar langsung untuk memahami batas-batas kawasan sekaligus mengenali keanekaragaman hayati di sekitarnya.

“Sebelum JAPESDA masuk, kami tidak mengetahui dengan jelas batas kawasan dengan desa,” kata Rahman. Kini, pengetahuannya tentang satwa dan tumbuhan terus bertambah. Ia mulai mengenali nama-nama satwa liar dan pohon, lengkap dengan status perlindungannya.

Pemantauan dilakukan menggunakan Spatial Monitoring and Reporting Tool (SMART Patrol), sebuah perangkat teknologi yang membantu masyarakat mencatat rute perjalanan, mendokumentasikan satwa, hingga merekam temuan aktivitas manusia..

Nurain Lapolo, Program Manager Pertanian Cerdas Iklim JAPESDA, menjelaskan bahwa sistem ini memastikan pengawasan kawasan tidak lagi sekadar mengandalkan ingatan sesaat. Catatan yang sistematis menjadi bahan evaluasi penting untuk menentukan strategi pengawasan berikutnya sekaligus mendeteksi ancaman terhadap hutan sedini mungkin.

“Dengan pencatatan yang sistematis, pemantauan kawasan tidak lagi bergantung pada ingatan atau pengamatan sesaat. Catatan lapangan menjadi bahan evaluasi untuk menentukan kebutuhan pengawasan berikutnya,” kata Nurain, Rabu (15/10/2026).

Tim SMART Patrol melakukan pendataan temuan selama patroli di Resort Bulango, Taman Nasional Bogani Nani Wartabone. Dokumentasi: Japesda

25 jenis satwa terdokumentasi

Nurain melanjutkan, pencatatan dilakukan sejak Maret 2023 hingga Agustus 2026. Dalam kurun waktu 3 tahun ini, kelompok kerja SMART Patrol telah berpatroli selama 60 hari dengan jarak tempuh 211 kilometer dan total 272,8 jam di dalam kawasan konservasi.

Patroli tersebut melibatkan 26 anggota kelompok, termasuk kepala desa dan pengawas, dengan wilayah jelajah sekitar 3.100 hektare di Resort Bolango, TNBNW.

Basis data pemantauan JAPESDA terkumpul sebanyak  794 rekaman hasil pengamatan yang dilakukan. 

“Dari pencatatan tersebut, tim desa berhasil mendokumentasikan 25 jenis satwa,” timpalnya.

 Satwa yang dijumpai antara lain; monyet Gorontalo (Macaca nigrescens), anoa (Bubalus depresicorni), dan julang Sulawesi (Rhyticeros cassidix). Warga juga mencatat pohon bernilai ekologis dan ekonomi, seperti eboni (Diospyros sp), nyatoh (Palaquium spp), meranti (Shorea spp), dan cempaka (Elmerrillia sp).

Bukan hanya itu, catatan patroli mengenai tekanan terhadap kawasan Resort Bulango, TNBNW, menunjukkan tren penurunan berdasarkan hasil patroli sepanjang 2023 sampai 2026. Pada 2023, tim patroli mencatat 18 temuan aktivitas manusia, mulai dari perambahan hutan hingga perburuan satwa. Jumlah tersebut turun menjadi masing-masing satu temuan pada 2024 dan 2025. Namun, hingga 2026, jumlah temuan kembali meningkat menjadi lima.

Monyet Gorontalo (Macaca nigrescens) yang dijumpai di dalam kawasan Taman Nasional Bogani Nani Wartabone. Dokumentasi: Japesda

Peningkatan temuan pada 2026 menunjukkan bahwa aktivitas manusia masih menjadi tekanan terhadap kawasan konservasi tersebut, meskipun jumlahnya jauh lebih rendah dibandingkan pada 2023. Namun, angka ini belum cukup untuk menyimpulkan bahwa gangguan terhadap hutan sudah berkurang, karena jumlah temuan juga dipengaruhi rute dan waktu patroli.

Praktik pertanian yang dijalankan JAPESDA bersama YPI sejak tahun 2023 menjadi salah satu upaya mendorong pengelolaan kebun yang lebih berkelanjutan di Desa Ilomata. 

Nurain berharap, pendekatan ini diharapkan dapat membantu menjaga kawasan konservasi sekaligus mempertahankan penghidupan petani tanpa harus bergantung pada pertanian monokultur.

Pengalaman Rahman menunjukkan satu hal yang berarti, bahwa perubahan praktek pertanian bukan sekadar mengganti jenis tanaman. Namun diperlukan kepiawaian dalam proses pembibitan, produksi pupuk organik dan pestisida alami juga memperkuat kemandirian petani dalam mengelola kebun sekaligus mengurangi ketergantungan pada aktivitas pembukaan lahan pertanian baru. Dengan ini deforestasi bisa perlahan dikendalikan.

Kedepan, JAPESDA akan terus memantau hasil panen dari praktek pertanian agroforestri dan perubahan tutupan hutan di Ilomata.

“Pemantauan ini diperlukan untuk melihat sejauh mana perubahan di tingkat kebun berkontribusi terhadap perlindungan hutan jangka panjang,” tutup Nurain. ****

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *