
SULAWESI TENGAH — Nelayan di Desa Uwedikan, Kecamatan Luwuk Timur, Kabupaten Banggai, berencana menutup kembali wilayah tangkap gurita di perairan Balean pada November 2026. Penutupan direncanakan berlangsung hingga Februari 2027, setelah hasil identifikasi kalender musim menunjukkan tangkapan gurita diperkirakan akan mulai meningkat pada Februari dan mencapai puncaknya pada April.
Rencana tersebut telah disepakati pada pertemuan sesi umpan balik data atau Data Feedback Session dan identifikasi kalender musim pada (3/10/2026). Pertemuan itu dihadiri anggota Kelompok Pengelola Usaha Perikanan (KomPAK), perwakilan masyarakat, Karang Taruna, dan anggota Badan Permusyawaratan Desa (BPD).
Ketua KomPAK, Saman Tose, mengatakan perubahan musim setiap tahun mempengaruhi pendapatan nelayan. Pada tahun-tahun sebelumnya, kelompoknya mencoba menentukan waktu penutupan wilayah tangkap berdasarkan pengalaman buka-tutup yang dilakukan pada 2021. Namun, setelah wilayah tersebut dibuka kembali, hasil tangkapan justru minim, bahkan nyaris tidak ada.
“Karena ada pergeseran kalender musim, maka kita identifikasi ulang, harapan kami pada penutupan selanjutnya hasil tangkapan bisa melimpah,” kata Saman.
Pendamping Lapangan Japesda di Uwedikan, Indhira Faramita Moha, mengatakan perubahan kalender musim menjadi pertimbangan nelayan untuk kembali menutup wilayah tangkap sementara.
“Hasil identifikasi kami kemarin menunjukkan akan ada potensi peningkatan hasil tangkapan gurita mulai Februari 2027,” kata Indhira, Minggu (4/10/2026).

Sebelumnya, penutupan sementara wilayah tangkap gurita berlangsung selama tiga bulan, mulai Mei hingga Agustus 2026. Setelah itu, enumerator bersama pendamping lapangan mengumpulkan data hasil tangkapan dan pendapatan nelayan untuk mengetahui apakah terjadi peningkatan atau penurunan setelah penutupan wilayah tangkap. Hasil pengumpulan data tersebut kemudian disampaikan kembali kepada nelayan melalui sesi umpan balik data sebagai bahan evaluasi bersama.
Data tangkapan nelayan sepanjang Mei hingga September 2026 menunjukkan angka yang naik turun. Pada awal Mei, hasil tangkapan mencapai 174,8 kilogram. Jumlah itu turun menjadi 82,2 kilogram pada Juni dan 46,9 kilogram pada Juli.
Ketika wilayah tangkap dibuka kembali pada Agustus, hasil tangkapan naik menjadi 91 kilogram. Namun, pada September, jumlahnya kembali turun menjadi 37,2 kilogram.
Indhira melanjutkan penurunan tersebut belum tentu menandakan berkurangnya populasi gurita. Menurut dia, hasil tangkapan juga dipengaruhi musim angin utara. Selain itu, data yang tercatat belum mencakup seluruh hasil tangkapan nelayan karena sebagian menjual gurita kepada pengepul yang belum terjangkau enumerator.
“Banyak nelayan menjual hasil gurita di pengepul yang sulit untuk kami jangkau,” ujarnya.
Untuk mengatasi persoalan itu, Indhira dan enumerator akan menjangkau pengepul lain agar pencatatan hasil tangkapan lebih lengkap. Data tersebut dibutuhkan untuk mengevaluasi perkembangan perikanan gurita di Uwedikan.
“Dalam waktu dekat ini, kami juga akan mensosialisasikan rencana penutupan kepada warga desa dan masyarakat di desa tetangga, agar nelayan mengetahui bahwa akan ada penutupan,” tutup Indhira.***

