Perkumpulan Japesda

Nelayan Torosiaje Belajar Teknik Menjaga Mutu Tangkapan

Nelayan di Torosiaje mengikuti pelatihan penanganan pascatangkap dan rantai nilai. Pelatihan ini diselenggarakan oleh Japesda bersama Kelompok SIpakullong di Desa Torosiaje, Kecamatan Popayato, Kabupaten Pohuwato, Provinsi Gorontalo.

POHUWATO — Kualitas hasil tangkapan menjadi salah satu faktor yang menentukan harga gurita  dan ikan di tingkat nelayan Desa Torosiaje, Kecamatan Popayato, Kabupaten Pohuwato. Penanganan yang kurang tepat setelah penangkapan dapat menurunkan kualitas dan membuat nilai jualnya ikut berkurang.

“Sering ditemukan gurita turun harga jualnya karena penanganan pasca penangkapan. Seharusnya bisa masuk grade A, tetapi karena misalnya badan gurita membengkak padahal masih segar dan baru beberapa jam ditangkap itu bisa masuk harga lokal,” kata Husain Onte, Ketua Kelompok Sipakullong.

Husain mengatakan pada akhir Agustus hingga awal September 2026, harga jual gurita di tingkat pengepul relatif tinggi yakni; sekitar Rp105 ribu per kilogram untuk size A, Rp88 ribu untuk size B, Rp75 ribu untuk size C, dan Rp42 ribu untuk size D. 

“Penanganan pascatangkap ini penting sekali dipahami agar gurita memiliki nilai jual yang tinggi,” timpal Husain

Pendamping lapangan Japesda di Desa Torosiaje, Ummul Uffia, mengatakan penurunan pendapatan nelayan akibat kurangnya perhatian terhadap penanganan pascatangkap menunjukkan pentingnya peningkatan pengetahuan mengenai kualitas hasil tangkapan.

Untuk meningkatkan pemahaman nelayan, Japesda bersama Kelompok Sipakulong menghadirkan Inspektur Mutu Ahli Pertama dari Stasiun Pengendalian dan Pengawasan Mutu Hasil Kelautan dan Perikanan (SPPMHKP) Gorontalo sebagai narasumber dalam pelatihan penanganan pascatangkap dan rantai nilai.

Materi pelatihan mencakup cara membersihkan ikan dan gurita, menangani hasil tangkapan yang masih hidup, serta menjaga rantai dingin selama penyimpanan dan distribusi. Ummul menambahkan, para nelayan diberikan gambaran serta cara menjaga mutu tangkapan sekaligus memastikan proses pendinginan yang baik dan benar.

“Misalnya untuk gurita, lendir perlu dibersihkan setelah tangkapan diperoleh sebelum disimpan dalam kotak berisi es. Gurita juga sebaiknya tidak dicampur dengan komoditas lain seperti ikan agar kualitasnya tetap terjaga,” papar Ummul.

Dalam proses pengemasan, gurita harus disusun berlapis dengan es hingga kotak penyimpanan penuh. Bobot muatan juga perlu diperhatikan karena tumpukan yang terlalu berat dapat mempercepat kerusakan gurita akibat tekanan berlebihan.

“Penting memperhatikan kebersihan tempat penyimpanan. Nelayan juga perlu tahu cara mematikan ikan sesegera mungkin setelah ditangkap sebelum dilakukan pendinginan, ini dapat membantu mempertahankan kualitas daging dan kesegaran ikan,” jelas Ummul.

Selain itu, para nelayan juga diingatkan agar tidak meletakkan hasil tangkapan langsung di lantai, rutin membersihkan perahu dan kotak penyimpanan, serta menjauhkan hasil tangkapan dari hewan peliharaan dan bahan bakar minyak.

“Kami berharap setelah pelatihan ini, nelayan dapat menjaga mutu hasil tangkapan, termasuk memahami proses pendinginan gurita dan ikan yang baik,” kata Ummul.

Modji Tiok, nelayan sekaligus pengepul ikan dan gurita di Torosiaje, mengatakan setiap pengepul memiliki kebutuhan dan standar berbeda dari pembeli. Perbedaan permintaan tersebut, menurut Modji, membuat nelayan dan pengepul perlu memahami standar kualitas hasil tangkapan.

Pengetahuan mengenai penanganan hasil tangkapan dan penerapan rantai dingin menjadi penting agar proses penyimpanan dapat mempertahankan kualitas gurita.

“Pelatihan kemarin penting sekali untuk nelayan dan pengepul. Memang sebelumnya pelatihan seperti ini sudah dilakukan oleh japesda, saya juga sudah mempraktekan,” pungkasnya.**

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *